selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Laman

Like Facebook


Sabtu, 03 Maret 2012

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) POLIP


BAB 1
PENDAHULUAN 
1.1.       Latar Belakang
Setiap manusia normalnya memiliki organ sensori, yaitu organ pembau, pendengaran, pengecapan, dan penglihatan. Organ- organ tersebut tidak jarang atau bahkan rawan sekali mengalami gangguan, sehingga terjadi gangguan sensori persepsi pada penderitanya.
Hidung adalah salah satu organ sensori yang fungsinya sebagai organ penghidu. Jika hidung mengalami gangguan, maka akan berpengaruh pada beberapa sistem tubuh, seperti pernapasan dan penciuman.
Salah satu gangguan pada hidung adalah polip nasi. Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.
Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak dibawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel. Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma nonalergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa dan lebih sering pada laki – laki, dimana rasio antara laki – laki dan perempuan 2:1 atau 3:1. Penyakit ini ditemukan pada seluruh kelompok ras. Prevalensi polip hidung dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa (Hosemann, 1994) dan 4,3% di Finlandia (Hedman, 1999). Jarang ditemukan pada anak- anak. biasanya polip hidung ditemukan pada umur 20 tahun.
Oleh karena itu, penting bagi perawat dan mahasiswa perawat untuk mendalami segala hal tentang polip. Sehingga nantinya bisa ditegakkan diagnosa yang tepat, beserta asuhan keperawatan yang akan diberikan.
1.2.       Rumusan Masalah
1.2.1.         Bagaimana konsep  polip?
1.2.2.         Bagaimana asuhan keperawatan untuk klien yang menderita polip?

1.3.       Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan pada penderita polip.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.1.                Mengidentifikasikan definisi dari polip
1.3.2.                Mengidentifikasikan anatomi dan fisiologi organ penghidu
1.3.3                 Mengidentifikasikan etiologi, patofisiologi, dan manifestasi polip serta segala hal yang berkaitan dengan penyakit tersebut.
1.3.4                 Mengidentifikasikan asuhan keperawatan yang tepat bagi  klien penderita polip.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.       Definisi
Polip hidung adalah massa lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat dalam rongga gidung. Paling sering berasal dari sinus etmoid, multiple, dan bilateral. Biasanya pada orang dewasa. Pada anak mungkin merupakan gejala kistik fibrosis.
Polip konka adalah polip hidung yang berasal dari sinus maksila yang keluar melalui rongga hibung dan membesar di konka dan nasofaring. ( Mansoer ,1999) 
Ada suatu tumbuhan di rongga hidung yang disebut polip hidung. Polip ialah suatu sumbatan, tetapi sifatnya lain dari tumor. (Iskandar, 1993)
Polip hidung ialah masa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa.(Endang, 2003)
Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral. (Anonim, 2010)

2.2.       Etiologi
Terjadi akibat reaksi hipertensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak di bawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti.
Polip disebabkan oleh reaksi alergi atau reaksi radang. Bentuknya bertangkai, tidak mengandung pembuluh darah. Di hidung polip dapat tumbuh banyak, apalagi bila asalnya dari sinus etmoid. Bila asalnya dari sinus maksila, maka polip itu tumbuh hanya satu, dan berada di lubang hidung yang menghadap  ke nasofaring (konka). Keadaan ini disebut polip konka. Polip konka biasanya lebih besar dari polip hidung. Polip itu harus dikeluarkan, oleh karena bila tidak, sebagai komplikasinya dapat terjadi sinusitis. Polip itu dapat tumbuh banyak, sehingga kadang-kadang tampak hidung penderita membesar, dan apabila penyebarannya tidak diobati setelah polip dikeluarkan, ia dapat tumbuh kembali. Oleh karena itu janganlah bosan berobat, oleh karena seringkali seseorang dioperasi untuk menegluarkan polipnya berulang-ulang.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
a)      Alergi terutama rinitis alergi.
b)      Sinusitis kronik.
c)      Iritasi.
d)     Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka.
2.3.       Patofisiologi
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetic. Menurut teori Bemstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang bertubulensi, terutama di daerah sempit di kompleks ostiomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelanjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.
Teori lain mengatakan karena ketidak seimbangan saraf vasomotor terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vascular yang mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lama-lama menjadi polip.
Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar menjadi polip dan kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai.
Histopatologi polip nasi Secara makroskopik polip merupakan massa dengan permukaan licin, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna pucat keabu-abuan, lobular, dapat tunggal atau multipel dan tidak sensitif (bila ditekan/ditusuk tidak terasa sakit). Warna polip yang pucat tersebut disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke polip. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah-merahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak mengandung jaringan ikat.
Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari tempat yang sempit di bagian atas hidung, di bagian lateral konka media dan sekitar muara sinus maksila dan sinus etmoid. Di tempat-tempat ini mukosa hidung saling berdekatan. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Dari penelitian Stammberger didapati 80% polip nasi berasal dari celah antara prosesus unsinatus, konka media dan infundibulum.
Ada polip yang tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip koana. Polip koana kebanyakan berasal dari dalam sinus maksila dan disebut juga polip antro-koana. Menurut Stammberger polip antrokoana biasanya berasal dari kista yang terdapat pada dinding sinus maksila. Ada juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus etmoid posterior atau resesus sfenoetmoid.
Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia denagn submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, netrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh darah, saraf dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena sering transisional, kubik atau gepeng berlapis keratinisasi.
Berdasarkan jenis sel peradanganya, polip dikelompokkan menjadi 2, yaitu polip tipe eosinofilik dan tipe neutrofilik.
2.4.       Manifestasi Klinis
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip nasi adalah hidung tersumbat. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama makin memberat. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan timbulnya gejala hiposmia bahkan anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, akan timbul sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rhinore. Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.
Sumbatan hidung yang menetap dan semakin berat dan rinorea. Dapat terjadi sumbatan hiposmia atau anosmia. Bila menyumbat ostium, dapat terjadi sinusitis dengan ingus purulen. Karena disebabkan alergi, gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.
Pada pemeriksaan klinis tampak massa putih keabu-abuan atau kuning kemerah-merahan dalam kavum nasi. Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak, tidak nyeri bila ditekan, mudah berdarah, dan tidak mengecil pada pemakaian vasokontriktor.
Pada rhinoskopi anterior polip nasi sering harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaannya:
              Polip
      Konka polipoid
Bertangkai
Tidak bertangkai
Mudah digerakkan
Sukar digerakkan
Tidak nyeri tekan
Nyeri bila ditekan dengan pinset
Tidak mudah berdarah
Mudah berdarah
Pada pemakaian vasokonstriktor tidak mengecil
Dapat mengecil dengan vasokonstriktor

 
Polip pada hidung dengan warna keabu- abuan

Gambar masa polip

2.5.       Pemeriksaan Fisik
Polip nasi yang massif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelebar batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan.
Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997),
Stadium 1 : polip masi terbatas di meatus medius
Stadium2 : polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung
Stadium 3 : polip yang massif
2.6.       Pemeriksaan Diagnostik
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters,AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan tomografi computer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.
2.5.1.   Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi.Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila
2.5.2.   Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermafaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negatif palsu, dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis di daerah kompleks ostio-meatal. Pemeriksaan tomografi komputer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan pada polip yang rekuren diperlukan juga potongan aksial

2.6         Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi adalah menghilangkan keluhan-keluhan, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medika mentosa. Dapat diberikan topical atau sistemik. Polip tipe eosinofilik memberikan respons yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid intranasal dibandingkan polip tipe neurotrofilik.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat massif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cumin dengan analgesic local, etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid, operasi Caldwell-Luc  untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (bedah Sinus Endoskopi Fungsional).
Bila polip masih kecil, dapat diobati secara konservatif dengan kortikosteroid sistemik atau oral, misalnya prednisone 50mg/hari atau deksamentosa selama 10 hari kemudian diturunkan perlahan. Secar local dapat disuntikkan ke dalam polip, misalnya triamsinolon asetonid atau predsinolon 0,5 ml tiap 5-7 hari sekali sampai hilang. Dapat dipakai secara topical sebagai semprot hidung, misalnya beklometason dipropionat. Bila sudah besar, dilakukan ekstraksi polip dengan senar. Bila berualang dapat dirujuk untuk operasi etmoidektomi intranasal atau ekstranasal
Pengobatan juga perlu ditunjukkan pada penyebabnya, dengan menghindari allergen penyebab.
Ada tiga macam penanganan polip nasi yaitu :
a)      Cara konservatif
b)      Cara operatif
c)      Kombinasi keduanya.
Cara konservatif atau menggunakan obat- obatan yaitu menggunakan glukokortikoid yang merupakan satu- satunya kortikosteroid yang efektif, terbagi atas kortikosteroid topical dan kortikosteroid sistemik. Kortikosteroid topical (long term topical treatment) diberikan dalam bentuk tetes atau semprot hidung tiak lebih dari 2 minggu. Kortikosteroid sistemik (short term systemic treatment) dapat diberikan secara oral maupun suntikan depot. Untuk preparat oral dapat diberikan prednisolon atau prednisone dengan dosis 60 mg untuk empat hari pertama, selanjutnya ditappering off 5 mg/hr sampai hari ke-15 dengan dosis total 570 mg. Suntikan depot yang dapat diberikan adalah methylprednisolon 80 mg atau betamethasone 14 mg setiap 3 bulan.
Cara operatif dapat berupa polipektomi intranasal, polipektomi intranasal dengan ethmoidektomi, transantral ethomiodektomi dan sublabial approach (Caldweel-luc operation), frontho-ethmoido- sphenoidektomi eksternal dan endoskopik polipektomi dan bedah sinus

2.7.       Komplikasi
Satu buah polip jarang menyebabkan komplikasi, tapi dalam ukuran besar atau dalam jumlah banyak (polyposis) dapat mengarah pada akut atau infeksi sinusitis kronis, mengorok dan bahkan sleep apnea - kondisi serius nafas dimana akan stop dan start bernafas beberapa kali selama tidur. Dalam kondisi parah, akan mengubah bentuk wajah dan penyebab penglihatan ganda/berbayang. 

2.8.       Prognosis
Prognosis dan perjalanan alamiah dari polip nasi sulit dipastikan. Terapi medis untuk polip nasi biasanya diberikan pada pasien yang tidak memerlukan tindakan operasi atau yang membutuhkan waktu lama untuk mengurangi gejala. Dengan terapi medikamentosa, jarang polip hilang sempurna. Tetapi hanya mengalami pengecilan yang cukup sehingga dapat mengurangi keluhan. Polip yang rekuren biasanya terjadi setelah pengobatan dengan terapi medikamentosa maupun pembedahan.
 DOWNLOAD : WOC POLIP

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1.       Pengkajian
Anamnesa
Data demografi  
Nama                     :           Tn. RJ
Umur                     :           27 th
Jenis kelamin         :           Laki-Laki
Status                    :           Kawin
Agama                   :           islam
Suku bangsa          :           jawa
Pendidikan                        :           Sarjana
Pekerjaan               :           swasta
Alamat                  :           kenjeran baru 2A
Dx medis               :           Polip

Riwayat penyakit sekarang : klien merasaan buntu pada hidung dan nyeri kronis pada hidung.
Keluhan utama: sulit bernapas.
a)      Riwatan penyakit dahulu: Klien memiliki riwayat penyakit sinusitis, rhinitis alergi, serta riwayat penyakit THT. Klien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma. Selain itu, klien pernah menderita sakit gigi geraham.
b)      Riwayat penyakit keluarga: -
c)       Riwayat psikososial
-        Intrapersonal : klien merasa cemas akibat nyeri yang kronis.
-        Interpersonal : gangguan citra diri yang berhubungan dengan suara sengau akibat massa dalam hidung.

d)        Pemeriksaan fisik persistem 
1)      B1 (breath): RR dapat meningkat atau menurun, terjadi perubahan pola napas akibat adanya massa yang membuntu jalan napas, adanya suara napas tambahan seperti ronchi akibat penumpukan secret, serta terlihat adanya otot bantu napas saat inspirasi
2)       B2 (blood): -
3)       B3 (brain): adanya nyeri kronis akibat pembengkakan pada mukosa, gangguan penghidu atau penciuman
4)       B4 (bladder): terjadi penurunan intake cairan
5)       B5 (bowel): nafsu makan menurun, berat badan turun, klien terlihat lemas
6)       B6 (bone): -
3.2.       Analisa Data

No
Data
Etiologi
Masalah
1
DS: nafsu makan berkurang
DO: berat badan turun, porsi makan tidak habis

Polip

Penurunan indera penciuman

Gangguan persepsi sensori: penciuman
2
DS: klien merasa ada sumbatan di hidung
DO : RR 24 x/menit, pola nafas tidak teratur, terlihat adanya otot bantu napas saat inspirasi, adanya suara napas tambahan (ronchi)

Adanya masa

aliran/drainase sekret tertahan

Hidung tersumbat

Bersihan jalan nafas tidak efektif
3.
DS:klien merasa lemas, nafsu makan turun.
DO:kurus, BB menurun (dari 65 kg menjadi 61 kg), albumin << 3,2  , Hb << 11  , rambut terlihat memerah pada anak-anak, lapisan subkutan tipis.
Hidung tersumbat

Penciuman terganggu

Napsu makan berkurang

Nutrisi kurang dari kebutuhan
4.
DS: klien merasa lemas
DO: mukosa mulut kering, penurunan turgor kulit.
Hidung tersumbat

Menghambat drainase paranasal


Secret terakumulasi
dalam sinus

Tempat yang untuk pertumbuhan kuman


Menekan jaringan disekitar

Penurunan O2 ke jaringan sekitar

Hipoksia jaringan

Iskemik

Kerusakan jaringan

Tempat masuk kuman

Resiko infeksi
5
DS: laporan keluarga terhadap adanya perubahan pola interaksi pasien , ketidaknyamanan terhadap situasi sosial
DO: teramati pada pasien adanya kegagalan perilaku interaksi sosial
Hidung tersumbat

Suara sengau
Hambatan interaksi
6
DS: klien gelisah
DO: RR meningkat
Pelebaran batang hidung

Nyeri

Gelisah
Ansietas
7
DS: klien mengeluh nyeri kadang kadang saat bernafas
DO: skala nyeri 4,adanya peradangan mukosa hidung
Adanya mukosa/ pelebaran batang hidung


Nyeri pada hidung

Infeksi
Nyeri kronis







3.3.       Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan persepsi sensori: pembau/penghidu
  2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d adanya masa dalam hidung
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d menurunnya nafsu makan
  4. Resiko infeksi b.d terhambatnya drainase sekret
  5. Hambatan interaksi sosial b.d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip
    1. Ansietas b.d kegelisahan adanya sumbatan pada hidung
  6. Nyeri kronis b.d penekanan [polip pada jaringan sekitar

3.4.       Intervensi dan Rasional
  1. Gangguan perseopsi sensori pembau/penghidu
Tujuan : mengembalikan fungsi penciuman ke normal
Kriteria Hasil : individu akan mendemonstrasikan penurunan gejala beban sensori berlebih yang ditandai dengan penurunan persepsi penciuman
INTERVENSI
RASIONAL
  • Anjurkan klien untuk mengubah posisi secara sering,meskipun hanya mengangkat satu sisi tubuh dengan sedikit berulang

  • Rujuk ke perubahan proses pola berpikir yang berhubungan dengan ketidakmampuan mengevaluasi realitas untuk mengetahui intervensi tambahan
  • Dengan meningkatkan stimulus sensori yang bervariasi hal ini dapat membantu mencegah perubahan akibat kemunduran sensori yang lain
  • Dengan terlebih dahulu menjelaskan tentang stimulus sensori yang akan dialami individu, kondisi distress, tekanan dan konfusi akan berkurang
  • Kualitas/kuantitas input sensori berkurang akibat immobilitas/pengurangan
 

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d adanya massa dalam hidung
Tujuan : Bersihan jalan nafas menjadi efektif dalam 10 – 15 menit setelah dilakukan tindakan.
Kriteria Hasil :
-          RR normal (16 – 20 x/menit)
-          Suara napas vesikuler
-          Pola napas teratur tanpa menggunakan otot bantu pernapasan
-          Saturasi oksigen 100%
INTERVENSI
RASIONAL
Observasi:
  • Observasi RR tiap 4 jam, bunyi napas, kedalaman inspirasi, dan gerakan dada
  • Auskultasi bagian dada anterior dan posterior

  • Pantau status oksigen pasien

Mandiri :
  • Berikan posisi fowler atau semifowler tinggi

  • Lakukan nebulizing

  • Berikan O2 (oksigenasi)




Kolaborasi:
  • Berikan obat sesuai dengan indikasi mukolitik, ekspetoran, bronkodilator.






Edukasi:
  • Ajarkan batuk efektif pada pasien


  • Ajarkan terapi napas dalam pada pasien
Rasional:
  • Mengetahui keefektifan pola napas

  • Mengetahui adanya penurunan atau tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi tambahan
  • Mencegah terjadinya sianosis dan keparahan


  • Mencegah obstruksi/aspirasi, dan meningkatkan ekspansi paru
  • Membantu pengenceran sekret
  • Mengkompensasi ketidakadekuatan O2 akibat inspirasi yang kurang maksimal


  • Mukolitik untuk menurunkan batuk, ekspektoran untuk membantu memobilisasi sekret, bronkodilator menurunkan spasme bronkus dan analgetik diberikan untuk meningkatkan kenyamanan

  • Membantu pasien untuk mengeluarkan sekret yang menumpuk

  • Membantu melapangkan ekspansi paru

  1. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan b.d menurunnya nafsu makan
Tujuan : Menunjukkan peningkatan nafsu makan setelah dilakukan tindakan dalam 3 x 24 jam.
Kriteria hasil :
-          Klien tidak merasa lemas.
-          Nafsu makan klien meningkat
-          Klien mengalami peningkatan BB minimal 1kg/2minggu
-          Kadar albumin > 3.2, Hb > 11
INTERVENSI
RASIONAL
Observasi:
  • Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai atau tidak disukai.
  • Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara pariodik.
  • Kaji turgor kulit pasien

  • Pantau nilai laboratorium, seperti Hb, albumin, dan kadar glukosa darah
Mandiri:
  • Pertahankan berat badan dengan memotivasi pasien untuk makan
  • Menyediakan makanan yang dapat meningkatkan selera makan pasien
  • Berikan makanan kesukaan pasien
  • Ciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk makan (misalkan, pindahkan barang- barang yang tidak enak dipandang)
  • Dorong makan sedikit demi sedikit dan sering dengan makanan tinggi kalori dan tinggi karbohidrat
  • Auskultasi bising usus, palpasi/observasi abdomen

Kolaborasi:
  • Kolaborasi dengan tim analis medis untuk mengukur kandungan albumin, Hb, dan kadar glukosa darah.
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang TKTP pada pasien

  • Diskusikan dengan dokter mengeni kebutuhan stimulasi nafsu makan atau makanan pelengkap
Edukasi:
  • Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya
  • Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
  • Dukung keluarga untuk membawakan makanan favorit pasien di rumah

  • Untuk mendukung peningkatan nafsu makan pasien
  • Mengetahui keseimbangan intake dan pengeluaran asuapan makanan
  • Sebagai data penunjang adanya perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan
  • Untuk dapat mengetahui tingkat kekurangan kandungan Hb, albumin, dan glukosa dalam darah

  • Mempertahankan berat badan yang ada agar tidak semakin berkurang
  • Meningkatkan nafsu makan pasien
  • Merangsang nafsu makan pasien
  • Meningkatkan rasa nyaman pasien untuk makan



  • Meningkatkan asupan makanan pada pasien

  • Mengetahui adanya bising atau peristaltik usus yang mengindikasikan berfungsinya saluran cerna

  • Mengetahui kandungan biokimiawi darah pasien


  • Memberikan asupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan pasien


  • Memberi rangsangan pada pasien untuk menimbulkan kembali nafsu makannya


  • Agar pasien mengetahui kebutuhan nutrisinya dan cara memenuhinya yang sesuai dengan kebituhan
  • Agar pasien mendapatkan gizi yang seimbang dengan harga yang relatif terjangkau
  • Merangsan nafsu makan pasien

  1. Resiko infeksi b.d terhambatnya drainase sekret.
Tujuan : Meningkatnya fungsi indera penciuman klien
Kriteria hasil:
-          Klien tidak merasa lemas
-          Mukosa mulut klien tidak kering
INTERVENSI
RASIONAL
Observasi:
  • Pantau adanya gejala infeksi

  • Kaji faktor yang dapat meningkatkan serangan infeksi

Mandiri :
  • Awasi suhu sesuai indikasi
  • Pantau suhu lingkungan


Health Education :
  • Menjaga lingkungan, ventilasi, dan juga pencahayaan dirumah tetap bersih



Rasional
  • Menjaga timbulnya infeksi
  • Menjaga perilakudan keadaan yang mendukung terjadinya infeksi

Rasional


  • Reaksi demam indicator adanya infeksi lanjut
  • Suhu ruangn atau jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal

  1. Hambatan interaksi sosial b.d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip
Tujuan: peningkatan sosialisasi
Kriteria Hasil:
-          Menunjukkan keterlibatan sosial
-          Menunjukkan penampilan peran
INTERVENSI
RASIONAL
Observasi:
  • Kaji pola interaksi antara pasien dengan orang lain


Mandiri:
  • Tetapkan jadwal interaksi.

  • Identifikasi perubahan perilaku yang spesifik

  • Libatkan pendukung sebaya dalam memberikan umpan balik pada pasien dalam interaksi sosial
Kolaborasi:
  • Kolaborasi dengan psikolog untuk memberikan motivasi diri pada pasien
Edukasi:
  • Berikan informasi tentang sumber-sumber di komunitas yang akan membantu pasien untuk melanjutkan dengan meningkatkan interaksi sosial setelah pemulangan

  • Mengetahui tingkat sosialisasi pasien dengan orang lain.

  • Pasien dapat beristirahat dan bersosialisasi dengan maksimal.

  • Perawat dapat mengerti kondisi psikis pasien.

  • Keberadaan pendukung sebaya akan menjadi teman untuk bersosialisasi.

  • Motivasi diperlukan dalam mengubah persepsi pasien menjadi lebih baik.


  • Pasien dapat meningkatkan sosialisasi dengan  dengan baik pada komunitas masyarakat dan sekitarnya.



  1. Ansietas b.d kegelisahan adanya sumbatan pada hidung
Tujuan : pengurangan ansietas
Kriteria hasil :
-          Pasien tidak menunjukkan kegelisahan
-          Pasien dapat mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan negatif
-          Tidak terjadi insomnia
INTERVENSI
RASIONAL
Observasi:
  • Kaji tingkat kecemasan pasien

  • Tanyakan kepada pasien tentang kecemasannya
Mandiri:
  • Ajak pasien untuk berdiskusi masalah penyakitnya dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan pilihan
  • Berikan posisi yang nyaman pada pasien

  • Berikan hiburan kepada pasien
Kolaborasi:
  • Berikan obat- obatan penenang jika pasien mengalami insomnia
Edukasi:
  • Sediakan informasi faktual menyangkut diagnosis, perawatan, dan prognosis
  • Ajarkan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi

  • Jelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang biasanya dirasakan selama prosedur

  • Mengetahui tingkat kecemasan pasien

  • Mengetahui penyebab kecemasan pasien

  • Meningkatkan motivasi diri pasien


  • Tingkat kenyamanan pasien dapat mempengaruhi kecemasan pada pasien

  • Hiburan akan mengalihkan fokus pasien dari kecemasannya

  • Memberikan bantuan farmakologik untuk menenangkan pasien

  • Memberi pengetahuan yang faktual pada pasien

  • Relaksasi membantu menurunkan kecemasan pada pasien

  • Kejelasan mengenai prosedur dapan mengurangi kecemasan pasien


  1. Nyeri kronis b.d penekanan polip pada jaringan sekitar
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
-          Klien mengungkapakan kualitas nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
-          Klien tidak menyeringai kesakitan
-          Tidak ada kegelisahan dan ketegangan otot
-          Tidak terjadi perubahan pola tidur pada pasien
INTERVENSI
RASIONAL
Observasi:
  • Kaji tingkat nyeri klien

  • Observasi tanda-tanda vital dan keluhan klien

  • Kaji pola tidur , pola makan, serta pola aktivitas pasien

Mandiri:
  • Ajarkan tekhnik relaksasi dan distraksi (misal: baca buku atau mendengarkan music)

Kolaborasi:
  • Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi konservatif: pemberian obat acetaminofen; aspirin, dekongestan hidung; pemberian analgesik
Edukasi:
  • Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya
  • Jelaskan pada keluarga dan pasien bahwa dalam penatalaksanaan ini membutuhkan kepatuhan penderita utk menghindari penyebab / pencetus alergi

  • Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya.
  • Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. TTV dapat menunjukkan kualitas nyeri dan respon nyeri oleh tubuh pasien tersebut
  • Untuk mengetahui pengaruh nyeri yang timbul pada pola kesehatan pasien

  • Klien mengetahui teknik distraksi dan relaksasi sehingga dapat mempraktekannya bila mengalami nyeri.

  • Menghilangkan/ mengurangi keluhan nyeri klien. Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri.

  • Memberikan pengetahuan pada klien dan keluarga
  • Untuk memaksimalkan tindakan (mengurangi ketidak patuhan)

BAB IV
PENUTUPAN
4.1.  Simpulan
Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif
atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi.
Diagnos keperawatan yang mungkin ditegakkan pada klien penderita polip antara lain:
  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d adanya masa dalam hidung
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d menurunnya nafsu makan
  3. Resiko infeksi b.d penurunan fungsi indra penciuman
    1. Hambatan interaksi sosial b.d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip
    2. Ansietas b.d kegelisahan adanya sumbatan pada hidung
    3. Nyeri kronis b.d infeksi pada mukosa hidung (sinusitis kronis dan rinitis alergi)
4.2.  Saran
Mahasiswa keperawatan dan seseorang yang profesinya sebagai perawat diharapkan mampu memahami dan menguasai berbagai hal tentang polip seperti etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan lainnya, serta asuhan keperawatan yang tepat bagi pasien yang menderita polip, agar gangguan pada daerah hidung ini dapat teratasi dengan baik.

Daftar Pustaka

Arief Mansoer dkk. 1999. Kapita selekta kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius fakultas kedokteran universitas Indonesia
Doenges, E. Mari Lynn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC
Greenberg J, 1998. Current Management of Nasal Polyposis. Diakses dari www.bcm.com
Jual, linda.1998.Rencana asuhan dan dokumentasi keperawatan-diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasi. Jakarta : EGC

McClay JE, 2007. Nasal Polyps. Diakses dari www.emedicine.com
Szema AM, Monte DC, 2005. Nasal Polyposis: What Every Chest Physician
Prof H.Nurbaiti Iskandar. 1993. dokter DSTHT. Jakarta : Fakultas kedokteran universitas Indonesia . balai penerbit FKUI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar