selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Laman

Like Facebook


Sabtu, 07 April 2012

ASKEP RHEUMATOID ARTHRITIS



BAB II
PEMBAHASAN


2. 1   Definisi Rheumatoid Artritis
   Rhematoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya. Penyakit yang 75 % diderita oleh kaum hawa ini bisa menyerang semua sendi, namun sebagian besar menyerang sendi-sendi jari (proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal).
   Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.
Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah. Namun kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus Rheumatoid Arthritis diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.

2. 2   Manifestasi Klinis Reumatoid Artritis
Tanda dan gejala setempat :
Ø  Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama.
Ø  Lambat laun membengkak, panas merah, lemah
Ø  Poli artritis simetris sendi perifer à Semua sendi bisa terserang, panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan, meskipun sendi yang lebih besar  seringkali terkena juga
Ø  Artritis erosif à sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada penyinaran sinar X
Ø  Deformitas à pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi metakarpofalangea, deformitas boutonniere dan leher angsa. Sendi yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total
Ø  Rematoid nodul à merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah, bentuknya oval atau bulat dan padat.
Tanda dan gejala sistemik :
Lemah, demam tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia. Bila ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:
1)      Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak, bengkak, dan kekakuan.
2)      Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. Selain tanda dan gejala tersebut diatasterjadi pula perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan-neck.
3)      Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. Perubahan pada sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus, ankilosis fibrosa, dan terakhir ankilosis tulang








































Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba, dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan, sikut dan pergelangan kaki.
Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku, terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah, terutama menjelang sore hari. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk.
Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkan atau dibuka sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya.

2. 3   Pathofisiologi Rheumatoid Artritis
   Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.  Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.  Yang lain. terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
Secara singkat dapat dikatakan Reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melakukan proses fagositosis yang menghasilkan enzim – enzim dalam sendi untuk memecah kolagen sehingga terjadi edema proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk pannus. Pannus tersebut akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang sehingga akan berakibat menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.

2. 4   Pemeriksaan Penunjang
1.   Pemeriksaan Laboratorium
            Beberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis artritis reumatoid. Sekitar 85% penderita artritis reumatoid mempunyai autoantibodi di dalam serumnya yang dikenal sebagai faktor reumatoid. Autoantibodi ini adalah suatu faktor anti-gama globulin (IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG. Titer yang tinggi, lebih besar dari 1:160, biasanya dikaitkan dengan nodula reumatoid, penyakit yang berat, vaskulitis, dan prognosis yang buruk.
            Faktor reumatoid adalah suatu indikator diagnosis yang membantu, tetapi uji untuk menemukan faktor ini bukanlah suatu uji untuk menyingkirkan diagnosis reumatoid artritis. Hasil yang positif dapat juga menyatakan adanya penyakit jaringan penyambung seperti lupus eritematosus sistemik, sklerosis sistemik progresif, dan dermatomiositis. Selain itu, sekitar 5% orang normal memiliki faktor reumatoid yang positif dalam serumnya. Insidens ini meningkat dengan bertambahnya usia. Sebanyak 20% orang normal yang berusia diatas 60 tahun dapat memiliki faktor reumatoid dalam titer yang rendah.
            Laju endap darah (LED) adalah suatu indeks peradangan yang bersifat tidak spesifik. Pada artritis reumatoid nilainya dapat tinggi (100 mm/jam atau lebih tinggi lagi). Hal ini berarti bahwa laju endap darah dapat dipakai untuk memantau aktifitas penyakit. Artritis reumatoid dapat menyebabkan anemia normositik normokromik melalui pengaruhnya pada sumsum tulang. Anemia ini tidak berespons terhadap pengobatan anemia yang biasa dan dapat membuat penderita cepat lelah. Seringkali juga terdapat anemia kekurangan besi sebagai akibat pemberian obat untuk mengobati penyakit ini. Anemia semacam ini dapat berespons terhadap pemberian besi.
            Pada Sendi Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda hitung sel darah putih kurang dari 200/mm3. Pada artritis reumatoid cairan sinovial kehilangan viskositasnya dan hitungan sel darah putih meningkat mencapai 15.000 – 20.000/ mm3. Hal ini membuat cairan menjadi tidak jernih. Cairan semacam ini dapat membeku, tetapi bekuan biasanya tidak kuat dan mudah pecah. Pemeriksaan laboratorium khusus untuk membantu menegakkan diagnosis lainya, misalnya : gambaran immunoelectrophoresis HLA (Human Lymphocyte Antigen) serta Rose-Wahler test.




2.   Pemeriksaan Radiologi
            Pada awal penyakit tidak ditemukan, tetapi setelah sendi mengalami kerusakan yang berat dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya rawan sendi. Terjadi erosi tulang pada tepi sendi dan penurunan densitas tulang. Perubahan ini sifatnya tidak reversibel. Secara radiologik didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang terkena.

2. 5   Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi adalah :
1.      Meringankan rasa nyeri dan peradangan
2.      Memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal penderita.
3.      Mencegah atau memperbaiki deformitas
Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:
1.      Istirahat
2.      Latihan fisik
3.      Panas
4.      Pengobatan
Ø  Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
Ø  Natrium kolin dan asetamenofen à meningkatkan toleransi saluran cerna terhadap terapi obat
Ø  Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600 mg/hari à mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
Ø  Garam emas
Ø  Kortikosteroid
5.      Nutrisi à diet untuk penurunan berat badan yang berlebih













         


Bila Rhematoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
a)      Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali inflamasi.
b)      Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
c)      Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.
d)     Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada persendian.



2. 6   Proses Keperawatan Reumatoid Artritis
A.  PENGKAJIAN
1.   Riwayat Keperawatan
ü  Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.
ü  Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.
2.   Pemeriksaan Fisik
1.              Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
2.              Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
·         Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
·         Catat bila ada krepitasi
·         Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
3.      Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
·         Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
·         Ukur kekuatan otot
4.      Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
5.      Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
3.   Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien.







B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu:
1.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh, sendi, bengkok, deformitas.
2.              Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.
3.              Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.
4.              Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.
5.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
6.      gangguan mobilitas berhubungan dengan kelemahan sendi

C.  INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh, sendi, bengkok, deformitas.
Tujuan    : klien memahami perubahan-perubahan tubuhnya akibat proses penyakit
Recana/tindakan Keperawatan
1.      Dorong klien untuk mengungkapkan rasa takut dan cemasnya menghadapi proses penyakit.
Rasional    :  Kondisi ini dapat membantu untuk menyadari keadaan diri.
2.      Berikan support yang sesuai.
Rasional : Hal ini dapat membantu meningkatkan upaya menerima dirinya.
3.      Dorong klien untuk mandiri.
Rasional    : Kemandirian membantu meningkatkan harga diri.
4.      Memodifikasi lingkungan sesuai dengan kondisi klien.
Rasional    : Memudahkan pasien untuk beraktifitas



5.      Kolaborasi penggunaan obat peningkat alam perasaan.
Rasional    : Mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemampuan koping yang efektif

2.      Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.
Tujuan    :  Kebutuhan rasa nyaman klien terpenuhi atau klien terhindar dari rasa nyeri
Recana/tindakan Keperawatan
1.      Istirahatkan klien sesuai kondisi (bed rest).
Rasional      :   Hal ini dapat membantu menurunkan stress muskuloskeletal,mengurangi tegangan otot, dan meningkatkan relaksasi karena kelelahan dapat mendorong terjadinya nyeri.
2.      Bila direncanakan klien dapat menggunakan splint, atau brace. Rasional   :           Hal ini dapat mencegah deformitas lebih lanjut.
3.      Hindari gerakan yang cepat dan tiba-tiba.
Rasional    : karena dapat menimbulkan dislokasi dan stres pada sendi-sendi
4.      Lakukan perawatan dengan hati-hati khususnya pada anggota-anggota tubuh yang sakit.
Rasional    :  Karena gerakan-gerakan yang kasar akan semakin menimbulkan nyeri
5.      Gunakan terapi panas misal kompres hangat pada area/bagian tubuh yang sakit.
Rasional    : Panas dapat meningkatkan sirkulasi, relaksai otot-otot, mengurangi kekakuan. Kemungkinan juga dapat membantu pengeluaran endorfin yaitu sejenis morfin yang diproduksi oleh tubuh.
6.      Lakukan peawatan kulit dan masase perlahan.
Rasional    :  Hal ini membantu meningkatkan aliran darah relaksasi otot, dan menghambat impuls-impuls nyeri serta merangsang pengeluaran endorfin.
7.      Memberikan obata-obatan sesuai terapi dokter misal, analgetik, antipiretik, anti inflamasi.
Rasional    :  Menurunkan rasa nyeri klien

3.      Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot dan sendi
Tujuan    : Klien terhindar dari cedera
Recana/tindakan Keperawatan
1.      Gunakan sepatu yang menyokong, hindarkan lantai yang licin, menggunakan pegangan dikamar mandi.
Rasional    : Menghindari resiko terjatuh
2.      Lakukan latihan ROM (bila memungkinkan).
Rasional    :  Untuk meningkatkan mobilitas dan kekuatan otot, mencegah deformitas, memperthankan fungsi semaksimal mungkin
3.      Monitor atau observasi efek penggunaan obat-obatan misal ada perdarahan pada lambung, hematemesis.
Rasional    :  Mencegah efek yang tidak di inginkan pada penggunaan obat-obatan

4.      Gangguan aktifitas sehari-hari (defisit self care) berhubungan dengan terbatasnya gerakan.
Tujuan    :  Klien akan mandiri sesuai kemampuan daam memenuhi aktifitas sehari-hari
Recana/tindakan Keperawatan
1.      Ajarkan aktifitas sehari-hari agar klien mulai terkondisi untuk melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuanya dan bertahap. Rasional         :           Mendukung kemandirian fisik
2.      Bantu klien untuk makan, berpakaian, dan kebutuhan lain selama memang diperlukan.
Rasional    :  Keterbatasan gerak membuat sulit untuk melakukan hal tersebut secara mandiri
3.      Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri, identifikasi/rencana untuk modifikasi lingkungan.
Rasional    : Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri

5.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan sendi
Tujuan    :  Mobilitas persendian klien dapat meningkat
Recana/tindakan Keperawatan
1.      Bantu klien untuk melakukan ROM aktif maupun pasif.
Rasional    :  Untuk memelihara fungsi sendi dan kekuatan otot meningkatkan elasitias serabut- serabut otot.
2.      Rencanakan program latihan setiap hari (dapat bekerja sama dengan dokter dan fisioterapi)
Rasional    :  Agar tidak terjadi kekakuan sendi pada klien
3.      Lakukan observasi untuk setiap kali latihan.
Rasional    : Untuk memantau perkembangan pasien

6.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan    :  Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan dirumah.
Recana/tindakan Keperawatan
1.      Tekankan kembali tentang pentingnya latihan atau aktivitas yang dianjurkan, proses penyakit dan keterbatasan-keterbatasannya.
Rasional    :  Memberikan pengetahuan dimana pasien mengerti tentang penyakitnya
2.      Diskusi tentang diit, dan hindarkan peningkatan berat badan
Rasional : Tujuan control penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri.
3.      Berikan jadwal obat-obatan yang ada, dosis, tujuan/efek, efek samping dan tanda keracunan obat.
Rasional    : Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan pemakaian obat tersebut. Untuk mendeteksi dini apabila terjadi keracunan akibat penggunaan obat
4.      Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan.
Rasional    : Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri
5.      Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter.
Rasional    : Banyak produk mengndung saliasilat tersembunyi yang dapat meningkatkan resiko atau efek samping obat yang berbahaya

D.  EVALUASI

  • Prilaku yang adaptif sehubungan dengan adanya masalah konsep diri
  • Nyeri dapat berkurang
  • Mampu untuk melakukan aktifitas sehari-hari
  • Komplikasi dapat dihindari
  • Meningkatkan mobilitas
  • memahami cara perawatan di rumah











BAB III
PENUTUP


3. 1   Kesimpulan
1.      Rhematoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya. Penyakit yang 75 % diderita oleh kaum hawa ini bisa menyerang semua sendi, namun sebagian besar menyerang sendi-sendi jari (proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal) .
2.      Manifestasi klinisnya antara lain :
Ø  Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di pagi hari
Ø  Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan
Ø  Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan
Ø  Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang
3.      Penatalaksanaanya antara lain :
Ø  Istirahat
Ø  Latihan fisik
Ø  Panas
Ø  Obat-obatan
Ø  Nutrisi yang tepat

3. 2   Saran
1.      Sebagai calon perawat hendaknya kita mengerti dan memahami tentang rheumatoid arthritis
2.      Dengan memahami tentang rheumatoid arthritis diharapkan kita dapat melaksanakan asuhan keperawatan tentang penyakit tersebut dengan benar

DAFTAR PUSTAKA


Doenges E Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

http//:www.wikipedia.com/Rheumatoid_arthritis.html

http//:www.google.com/Nurse_blog/Artritis_rheumatoid.html

http//:www.google.com/arthritis_rheumatoid.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar