selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Laman

Like Facebook


Selasa, 25 September 2012

gangguan pada anorektal (hemorrhoid)





Sebagai saluran terakhir pencernaan makanan, usus berpotensi terkena kanker dari makanan yang kita konsumsi. Ada lima stadium dengan sifat masing-masing dan besaran kemungkinan bertahan hidup yang semakin kecil bagi pasien.
Gejala
Lelah, sesak napas waktu bekerja, dan kepala terasa pening.
Pendarahan pada rektum, rasa kenyang bersifat sementara, atau kram lambung serta adanya tekanan pada rektum.
Adanya darah dalam tinja, seperti terjadi pada penderita pendarahan lambung, polip usus, atau wasir.
Pucat, sakit pada umumnya, malnutrisi, lemah, kurus, terjadi cairan di dalam rongga perut, pembesaran hati, serta pelebaran saluran limpa.
Penyebab
Kontak dengan zat-zat kimia tertentu seperti logam berat, toksin, dan ototoksin serta gelombang elektromagnetik.
Pola makan yang buruk, antara lain terlalu banyak daging dan lemak yang tidak diimbangi buah dan sayuran segar yang banyak mengandung serat.
Zat besi yang berlebihan diantaranya terdapat pada pigmen empedu, daging sapi dan kambing serta tranfusi darah.
Lemak jenuh dan asam lemak omega-6 (asam linol).
Minuman beralkohol, khususnya bir. Usus mengubah alkohol menjadi asetilaldehida yang meningkatkan risiko menderita kanker kolon.
Obesitas.
Bekerja sambil duduk seharian, seperti para eksekutif, pegawai administrasi, atau pengemudi kendaraan umum.
Pemeriksaan medis
Fiberoptik kolonoskopi:
Memasukkan sejenis pipa terbuat dari serat optik ke dalam usus melalui anus (dubur). Kamera yang terdapat pada alat itu bisa digunakan untuk melakukan pemeriksaan apakah dalam usus terdapat polip atau tidak.
CT Scan.
Pemeriksaan darah:
Menentukan tumor marker CEA (carcino-embryonis antigen) dalam darah.
Perawatan
Kemoterapi
Radiasi
Operasi:
Pemotongan usus besar yang sakit, dan menyambungkan kembali dua ujung bagian usus besar yang sehat.
Teknik laparoskopi:
Melalui beberapa lubang kecil yang dibuat dibeberapa titik di perut. Operasi dilakukan dengan alat-alat kecil yang dioperasikan lewat lubang-lubang itu dan dipantau lewat layar monitor.
Pencegahan
Konsumsi banyak makanan berserat. Untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan derajat keasaman, kosentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi dalam usus besar.
Asam lemak omega-3, yang banyak terdapat dalam ikan tertentu.
Kosentrasi kalsium, vitamin A, C, D, dan E dan betakarotin.
Susu yang mengandung Lactobacillus acidophilus.
Berolahraga dan banyak bergerak sehingga semakin mudah dan teratur untuk buang air besar.
Hidup rileks dan kurangi stres.
Deteksi Dini
Seperti halnya deteksi dini kanker mulut rahim menggunakan papsmear atau untuk kanker payudara memakai mamografi, terhadap kanker kolon pun bisa dilakukan deteksi dini.
Deteksi dini kanker kolon dianjurkan kepada mereka yang telah menginjak usia 50 tahun. Tetapi bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga pernah terkena kanker ovarium, kolon dan kanker paru, disarankan melakukan deteksi dini sebelum usia 50 tahun.
Kanker kolon dianggap sebagai penyakit yang perjalanannya lambat. Karena itu masyarakat dianjurkan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan darah yang ada dalam tinja dan kolonoskopi.
"Sebaiknya deteksi dini dilakukan sejak usia 40 tahun bagi yang memang memiliki riwayat ketiga jenis kanker tersebut dalam keluarganya," kata dr Aru W Sudoyo, konsultan hematologi dan onkologi medik dari FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo kepada Media Indonesia, pekan lalu di ruang kerjanya.
Apalagi bagi mereka yang telah mengalami gejala, seperti perdarahan pada saat buang air besar dan tertutupnya jalan usus atau penyumbatan," lanjut Aru, deteksi dini sangat disarankan.
Menurut Aru, beberapa prosedur deteksi dini kanker kolon antara lain:
Pemeriksaan colok dubur oleh dokter bila seseorang mencapai usia 50 tahun. Pemeriksaan tersebut sekaligus untuk mengetahui adanya kelainan pada prostat.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan darah samar (occult blood) secara berkala, apakah terdapat darah pada tinja atau tidak. Kemudian pemeriksaan secara visual dengan endoskopi di kolon atau disebut kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi atau teropong usus ini dianjurkan segera dilakukan bagi mereka yang sudah mencapai usia 50 tahun.
Pemeriksaan kolonoskopi relatif aman, tidak berbahaya, namun pemeriksaan ini tidak menyenangkan. Kolonoskopi dilakukan untuk menemukan kanker kolorektal sekaligus mendapatkan jaringan untuk diperiksa di laboratorium patologi. Pada pemeriksaan ini diperlukan alat endoskopi fiberoptik yang digunakan untuk pemeriksaan kolonoskopi. Alat tersebut dapat melihat sepanjang usus besar, memotretnya, sekaligus biopsi tumor bila ditemukan.
Cara lain untuk menunjang diagnosis kanker kolon adalah dengan enema barium. Pada pemeriksaan enema barium, bahan cair barium dimasukkan ke usus besar melalui dubur dan siluet (bayangan)-nya dipotret dengan alat rontgen. Pada pemeriksaan ini hanya dapat dilihat bahwa ada kelainan, mungkin tumor, dan bila ada perlu diikuti dengan pemeriksaan kolonoskopi.
Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi kanker dan polip yang besarnya melebihi satu sentimeter. Kelemahannya, pada pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan biopsi.
Dengan kolonoskopi dapat dilihat kelainan berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan atau ulkus, pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan, dan gambaran pembuluh darahnya. Aru mengatakan dengan deteksi dini diharapkan kanker kolon dapat segera ditangani atau diterapi. Beberapa terapi, seperti kemoterapi dan radiasi dapat dilakukan untuk mengatasi kanker kolon

Tehnik perawatan kolostomi
 
 Cara Kerja:1. Atur posisi pasien supine atau berdiri.2. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
bersih.3. Pasang pengalas (under pad).
4
. Angkat kantong kolostomi lama dengan menekan kulit sekitar kolostomi,gunakan bensin wash untuk mempermudah dan letakkan ke kantong sampah.5. Bersihkan peristoma secara hati-hati dengan menggunakan kapas lembab laludikeringkan dengan tissue.6. Gunting lubang kantong kolostomi baru dengan menggunakan kolostomi guide(1/16-1/8 inc lebih besar dari lubang kolostomi) sebelum membuka plastik penutupperekat kantong/face plate.7. Pasang skin barrier dan kantong, apabila kulit ada yang tidak rata beri pastakolostomi dan tunggu sampai kering 1-2 menit sebelum dipasang kantongkolostomi.8. Tekan pinggir kantong kolostomi dengan telunjuk secara pelan.9. Jika kantong kolostomi telah terpasang dengan baik letakkan tangan perawatdiatas kolostomi selama 2 menit untuk meyakinkan bahwa kantong terpasangdengan benar.10. Pasang belt kolostomi atau plester non allergic.11. Rapikan alat-alat dan semprot ruangan dengan deodorant kolostomi (pewangiruangan).12. Buka sarung tangan dan cuci tangan.13. Kantong kolostomi dapat dipertahankan 3-7 hari serta dapat dipakai saat mandidan setelah mandi dan keringkan dengan baik.1
4
. Dokumentasikan. Evaluasi:1. Tidak ada kemerahan, iritasi, erosi, dan gangguan kulit sekitar peristoma.2. Sekitar stoma bebas dari kebocoran.3. Kantong stoma hanya berisi setengah oleh feses dan bebas dari flatus (tidak kembung).
4
. Bebas bau dari kantong stoma.5. Pasien dapat merawat stoma secara mandiri. Dokumentasi:1. Penampilan dari stoma, kulit peristoma, karakter keluaran dari stoma.2. Dokumentasikan respon pasien terhadap stoma.3. Laporkan proses pembelajaran dalam merawat stoma secara mandiri. 
 
 B.     Jenis-jenis Kolostomi Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu sehingga jenisnyaada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuatsecara permanen atau sementara 1.         Kolostomi PermanenPembuatan kolostomi permanent biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak mungkin untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan ataupengangkatan kolon atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus 2.         Kolostomi Temporer/Sementara Kolostomi ini memiliki  2 ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomenyang disebut kolostomi dabel baret.Lubang kolostomi yang muncul di permukaan abdomen berupa mukosakemerahan yang di sebut STOMA Komplikasi Kolostomi 1.      Obstruksi /PenyumbatanData disebabkan oleh adanya pelengketan usus atau adanya pengerasan fesesyang sulit di keluarkaan untuk menghindari penyumbatan,pasien perlu di lakukanirigasi kolostomi secara teratur. 2.      InfeksiKontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebabinfeksi pada luka sekitar STOMA 3.      Reaksi Stoma / mengkerutStoma mengalami peningkatan karena kantong kolostommi yang terlalu sempitdan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk di sekitar stoma. 
4
.      Prolaps pada StomaTerjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyongkong stoma yang kurang kuat pada pembedahan 5.      Stenosis6.      Pendarahan Stoma
 
Akibat yang mungkin terjadi karena kolostomi 1.      Iritasi Kulit2.      Diare3.      Pendarahan Stoma (lubang kolostomi)
4
.      Infeksi (masuknya kuman penyakit pada luka operasi)5.      Sepsis (Demam karena bakteri dsb) dan6.      Kematian C.     Perawatan Kolostomi 1.         Pengertian Suatu tindakan mengganti kantong kolostomi yang penuh dengan yang baruatau membersihkan stoma kolostomi,kulit sekitar stoma dan mengganti kantomgkolostomi secara berkala. 2.         Tujuan Ø   Menjaga kebersihan klienØ   Mencegah terjadinya infeksiØ   Mencegah iritasi kulit skitar stomaØ   Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkunganØ   Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakannØ   Mengatur posisi tidur klien atau supinasi 3.         Persiapan Alat 1.      Colostomi bag atau cincin tumit,bantalan kapas,kain berlubang dan kain bersegiempat2.      Kapas sublimat atau kapas basah NACL3.      Kapas kering
4
.      Satu pasang handscoon5.      Kantong berbentuk balutan kotor 6.      Baju ruangan /celemeg7.      Betadine bila perlu ,mengalami iritasi8.      Zinch salep9.      Perlak dan alasnya10.   Plaster dan gunting11.  Bila perlu obat desinfektan
 
12.  Nerbeken / bengkok 13.  Set ganti balut  
4
.         Persiapan Pasien 1.    Mengucapkan salam2.    Memperkenalkan diri3.    Menjelaskan prosedur 
4
.    Penjelasan yang disampaikan dapat dimengerti5.    Dalam berkkomunikasi bahasa harus jelas6.    Klien / keluarga di beri kesempatan untuk bertanya7.    Privasi klien selama komunikasi dihargai8.    Memperlihatkan kesabaran,penuh empati,sopan dan penuh perhatian9.    Membuat kontrak (waktu dan tempat)  5.         Prosedur kerja 1.    Cuci tangan2.     Gunakan handscoon3.    Letakkkan perlak dan alasnya dibagian kanan atau kiri pasien atau letak stoma
4
.    Meletakkan bengkok di atas perlak dan di letakkan tubuh pasien5.    Mengobsesrvasi produk stoma (warna konsisten)6.    Membuka kantong stomi dengan hati-hati dengan menggunakan pinset7.    Meletakkan colostomy bag kotor ke dalam bengkok 8.    Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma9.    Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas subllimat /kapas hangat (air hangat)10.    Keringkan kulit sekitar colostomy11.    Membersihkan zink salep(tipis-tipis) jikan terdapat iritasi kulit sekitar stoma12.    Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma kolostomi13.    Menempelkan kantong koloastomi dengan posisi vertical / horizontal1
4
.    Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi15.    Memasang kolostomi bag dengan tepat tanpa udara di dalamnya16.    Merapikan klien dan lingkungan17.    Membereskan alat-alat dan membuang kotoran18.    Melespakan handscoon19.    Mencuci tangan20.    Membuat laporan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar