selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Laman

Like Facebook


Sabtu, 29 Desember 2012

ASKEP Angina Pectoris

Asuhan Keperawatan Angina Pectoris
Angina Pectoris Asuhan Keperawatan Angina Pectoris
 A.    Definisi
Coronary Artery disease adalah penyakit yang berkaitan dengan kerusakan pada arteri koroner seperti angina pectoris dan infark miokard. Beberapa ahli juga menyebutkan dengan istilah Acute Coronery Syndrome (ACS – sindrom koroner akut). Pengertian klinis angina adalah keadaan iskemia miokard karena kurangnya suplai oksigen ke sel-sel otot jantung (miokard) yang disebabkan oleh penyumbatan atau penyempitan arteri koroner, peningkatan beban kerja jantung, dan menurunnya kemampuan darah mengikat oksigen.
Angina pectoris berasal dari bahasa yunani yang berarti “cekikan dada” yaitu gangguan yang sering terjadi karena atherosclerotic heart disease. Terjadinya serangan angina menunjukan adanya iskemia. Iskemia yang terjadi pada angina terbatas pada durasi serangan dan tisak menyebabkan kerusakan permanaen jaringan miokard. Namun, angina merupakan hal yang mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan disritmia atau berkembang menjadi infark miokard.(Wajan J.U, 2010).
Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti. (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996).
Angina Pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel.  (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993).
Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler).
B.     Klasifikasi
Angina diklasifikasikan dalam tipe-tipe yaitu Stable (Stable Exertional) angina. Unstable (Crescendo/pre-infarction) angina dan Variant (Prinzmetal’s) angina.
Stable angina menggambarkan nyeri dada yang timbul saat peningkatan aktivitas fisik maupun stress emosional. Dengan tanda-tanda khas yaitu serangan merupakan gejala baru dan stabil, durasi dan intensitas gejala stabil.
Unstable angina berkaitan dengan nyeri dada yang timbul karena aktivitas dengan derajat yang sulit diramalkan dengan tanda khas yaitu peningkatan frekuensi serangan dan intensitas nyerinya.
Variant angina digambarkan sebagai nyeri dada yang biasanya terjadi selama istirahat atau tidur daripada selama aktivitas. Variant angina terutama disebabkan oleh spasme arteri koroner. Klien dengan variant angina mungkin tidak menunjukan tanda aterosklerotik pada arteri koroner. (Wajan J.U. 2010).
C.    Etiologi
Faktor penyebab Angina Pektoris antara lain:
  1.  Riwayat merokok (Baik perokok aktif maupun perokok pasif)
  2. Angina disebabkan oleh penurunan aliran darah yang menuju area jantung. Keadaan ini paling sering dipicu oleh coronary artery disease (CAD). Kadang-kadang , jenis penyakit jantung yang lain atau hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan angina.
  3. Ateriosklerosis
  4. Spasme arteri koroner
  5. Anemia berat
  6. Artritis
  7. Aorta Insufisiensi
Faktor resiko antara lain adalah:
Dapat Diubah (dimodifikasi)
  • Diet (hiperlipidemia)
  • Rokok
  • Hipertensi
  • Stress
  • Obesitas
  • Kurang aktifitas
  • Diabetes Mellitus
  • Pemakaian kontrasepsi oral
Tidak dapat diubah
  • Usia
  • Jenis Kelamin
  • Ras
  • Herediter
Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain:
  1. Emosi
  2. Stress
  3. Kerja fisik terlalu berat
  4. Hawa terlalu panas dan lembab
  5. Terlalu kenyang
  6. Banyak merokok
D.    Patofisiologi
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidak adekuatan suplay oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.
Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung.
Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Angina Pectoris Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksida yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang.
Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang.
Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.
Sejumlah faktor yang dapat menimbulkan nyeri angina:
  1. Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
  2. Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
  3. Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung.
  4. Stress atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat.
E.     Gejala dan Tanda
  1. Stable angina
    • Nyeri dada timbul setelah melakukan kegiatan atau mengalami stress psikis atau emosi tinggi
    • Serangan berlangsung kurang dari 10 menit dan stabil (frekuensi, lama serangan factor pencetus menetap dalam 30 hari terakhir).
    • Pola EKG
  • Pada fase istirahat : normal
  • Exercise test EKG (treadmill test), segmen STdepresi, gelombang T intervensi (arrow head)
  1. Laboratorium : kadar kardiak iso-enzim normal.
  2. Serangan nyeri dada hilang bila klien beristirahat dan mendapat obat nitrogliserin (vasodilator).
  3. Unstable angina
    • Nyeri dada timbul saat istirahat dan melakukan aktivitas.
    • Nyeri lebih hebat dan frekuensi serangan lebih sering.
    • Serangan berlangsung sampai dengan 30 menit atau lebih.
    • Saat serangan timbul biasanya disertai tanda-tanda sesak napas, mual, muntah, dan diaforsis.
    • Pola EKG: segmen ST depresi saat serangan dan setelah serangan (muncul sebagian).
    • Serangan nyeri dada hilang bila klien mendapat terapi nitrogliserin, narkotik(phetidin/morphin), bed rest total, dan bantuan oksigenasi.
    • Variant atau prinzmetal angina
    • Nyeri dada timbul saat istirahat maupun melakukan aktivitas.
    • Dapat terjadi tanpa aterosklerosis koroner.
    • Kadang-kadang disertai disritmia dan konduksi abnormal.
    • EKG : segmen ST elevasi saat serangan, namun normal bila serangan hilang.
    • Tanda-tanda lain hampir sama dengan unstable angina.
    • Serangan nyeri dada hilang bila klien mendapat terapi nitrogliserin dan obat antispasme arteri.
 F.     Mekanisme Angina
 G.    Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan penunjang
  1. Elektrokardiogram
    Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark moikard pada masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan segmen ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
  2. Foto Rontgen Dada
Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
  1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH. Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yahng juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris.
  1. Uji Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkali masih normal, maka seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1 mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris.
Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.
  1. Thallium Exercise Myocardial Imaging
Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani dan dapat menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201 disuntikkan secara intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan pemeriksaan scanning jantung segera setelah latihan dihentikan dan diulang kembali setelah pasien sehat dan kembali normal. Bila ada iskemia maka akan tampak cold spot pada daerah yang yang menderita iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita iskemia.
H.    Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai melalui terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini dapat dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner atau angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA = percutaneous transluminal coronary angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi antara terapi medis dan pembedahan.
Tiga teknik utama yang menawarkan penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri koroner mencakup penggunaan alat intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah, penggunaan laser untuk menguapkan plak dan endarterektomi koroner perkutan untuk mengangkat obstruksi. Penelitian yang bertujuan untuk membandingkan hasil akhir yang dicapai oleh salah satu atau seluruh teknik di atas, melalui bedah pintas koroner dan PTCA sedang dilakukan. Ilmu pengetahuan terus dikembangkan untuk mengurangi gejala dan kemunduran proses angina yang diderita pasien.
I.       Pencegahan
Aterosklerosis koroner adalah penyebab utama kematian dicegah di Amerika Serikat. Sebuah upaya ketat untuk mengatasi faktor risiko diperbaiki adalah andalan kedokteran kardiovaskular pencegahan.
Berhenti merokok adalah satu intervensi pencegahan yang paling efektif untuk mengurangi prevalensi aterosklerosis koroner. Ini telah dikaitkan dengan penurunan penyakit arteri koroner 7-47% dalam pengaturan pencegahan primer.
Pengobatan agresif diabetes mellitus, hipertensi, hipertrofi LV, hiperlipidemia, dan obesitas memiliki peran penting dalam pencegahan penyakit arteri koroner.
Perkembangan terbaru yang paling penting dalam modifikasi risiko aterosklerosis koroner adalah pengenalan inhibitor beta-hidroksi-beta-methylglutaryl A reduktase koenzim. Pengurangan kadar kolesterol total dan LDL sebesar 25% dan 35%, masing-masing, dapat mencapai pengurangan serupa di tingkat kematian total dan koroner, MI, dan kebutuhan untuk revaskularisasi koroner.
Asuhan Keperawatan
 A.    Pengkajian
Riwayat Keperawatan
  1. Keluhan nyeri di dada anterior, prekordial, substernal yang menjalar ke lengan bagian kiri, leher, rahang, pungung dan epigastrium. Nyeri dada seperti tertekan beban berat, terasa berat, dan seperti diremas yang timbul mendadak. Myeri dada yang timbul berhubungan dengan aktivitas berat atau emosi yang hebat (marah dan rangsanan seksual). Durasi serangan nyeri bervariasi tergantung diameter arteri koroner yang tersumbat dan luasnya iskemia miokard. Nyeri dada dapat disertai dengan gejala mual, muntah, diaforsis, dan sesak nafas. Bila nyeri timbul saat klein istirahat atau tidur, maka prognosisnya buruk (kemungkina telah terjadi infark miokard).
  2. Gambaran nyeri dapat merupakan gejala yang baru timbul atau sering hilang timbul. Penyebab yang mempercepat timbulnya nyeri dan hal-hal yang mengurangi nyeri perlu dikaji guna membedakan dengan penyakit lain yang mempunyai gejala nyeri dada.
  3. Pekerjaan, perlu dicatat tentang jenis pekerjaan klien serta adanya stress fisik dan psikis yang dapat meningkatkan beban keraj jantung.
  4. Hobu : menunjukan gaya hidup klien cara mengatasi keteganagn dan penguranagn aktinitas yang mendadak
  5. Kaji factor risiko penyakit jantung, seperti berikut ini.
    • Riwayat penyakit klen seperti diabetes, hipertensi, penyakit vascular, animea dan lai-lain.
    • Riwayat kesehatan lain :
    • Peningkatan kadar kolesterol (LDL dan HDL), trigliserida, hipertriroid, kebiasaan merokok, konsumsi minuman berakohol, asupan makanan tinggi garam, kafein, asupan cairan, dan BB.
    • Obat-obatan : toleransi terhadap obat-obatan dan terapi yang didapat saat timbul serangan.
    • Riwayat gangguan saluran pencernaan seperti dyspepsia, astritis, peptic uler, dan penyakit lain yang menimbulkan keluhan nyeri epigastrium.
    • Riwayat kesehatan keluarga : riwayat penyakit jantung dan pembuluh dara (arteri koroner) dalam keluarga merupakan factor risiko bagi klien.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang
  1. Elektrokardiogram
    Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark moikard pada masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan segmen ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
  2. Foto Rontgen Dada
Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
  1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH. Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yahng juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris.
  1. Uji Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkalimasih normal, maka seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1 mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris.
Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.
  1. Thallium Exercise Myocardial Imaging
Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani dan dapat menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201 disuntikkan secara intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan pemeriksaan scanning jantung segera setelah latihan dihentikan dan diulang kembali setelah pasien sehat dan kembali normal. Bila ada iskemia maka akan tampak cold spot pada daerah yang yang menderita iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita iskemia.
Pemeriksaan Fisik
  1. Mengkaji gejala lain guna mengesampingkan keluhan angina non kardiak seperti esofaitis, peptic ulcer, keteganagn otot dan penyakit kantung empedu.
  2. Kaji semua status yang berhubungan dengan jantung berat badan dan tinggi badan kelelahan, warna kulit dan suhu kulit, pola respirasi, toleransi aktivitas,denyt nadi, TD, suhu, edema, bunyi jantung, serta irama dan frekuensi denyut jantung.
  3. Kaji pola tidur dan istirahat tipe kepribadian, serta kecemasan atau kegelisahan.
B.     Diagnosis Keperawatan
  1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
  2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
  3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
  4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi Keperawatan
  1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard
Tujuan :
Klien memahami tentang dan penatalaksanaan
Criteria hasil :
Klien menyatakan/menunjukan nyeri hilang
Intervensi
Rasional
  1. Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.
  2.  Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.
  3. Ciptakan lingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
  4. Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.
  5. Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
  6. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
  7. Kolaborasi pengobatan.
  1. Menurunkan kebutuhan oksigen miokard untuk meminimalkan risiko cedera jaringan/ nekrosis.
  2. TD dapat meningkat secara dini sehubungan dengan rangsang simpatis, kemudian turun bila curah jantung dipengaruhi.
  3. Stres mental atau emosi meningkatkan kerja miokard.
  4. Menurunkan kerja miokard sehubungan dengan kerja pencernaan, menurunkan risiko serangan angina
  5. Cemas mengeluarkan katekolamin yang meningkatkan kerja miokard dan dapat memanjangkan nyeri iskemi.
  1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kurangnya curah jantung.
Intervensi
Rasional
  1. Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman.
  2. Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai indikasi.
  3. Catat warna kulit dan kualitas nadi.
  4. Tingkatkan aktifitas klien secara teratur.
  5. Pantau EKG dengan sering.
-
  1. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
Intervensi
Rasional
  1. Jelaskan semua prosedur tindakan.
  2. Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
  3. Dorong keluarga dan teman untuk menganggap klien seperti sebelumnya.
  4. Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
  5. Kolaborasi.
  1. Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosa dan prognosis.
  2. Perasaan tidak diekspresikandapat menimbulkan kekacauan internal dan efek gambaran diri.
  3. Meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah.
  4. Mendorong pasien untuk mengontrol tes gejala, untuk meningkatkan kepercayaan pada program medis dan mengintegrasikan kemampuan dalam konsep diri.
  5. Mungkin diperlukan untuk membantu pasien rileks.
  1. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi
Rasional
  1. Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
  2. Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.
  3. Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah raga.
  4. Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktifitas, hindari tegangan.
  5. Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.
  6. Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.
  1. Pasien dengan angina membutuhkan belajar mengapa hal itu terjadi dan apakah dapat terkontrol.
  2. Dapat menurunkan insiden/ beratnya episode iskemik.
  3. Pengetahuan faktor resiko penting memberikan pasien kesempatan untuk membuat perubahan kebutuhan.
  4. Membiarkan pasien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dapat dimodifikasi untuk menghindari stres jantung dan tetap dibawah ambang angina.
  5. Menyiapkan pasien pada kejadian untuk menghilangkan takut yang mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi serangan.
  6. Takut terhadap pencetus serangan dapat menyebabkan pasien menghindari partisipasi pada aktivitas yang telah dibuat untuk meningkatkan perbaikan.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Tema                           : Rokok
Sub tema                     : Bahaya rokok terhadap tubuh
Sasaran                        : Tn. R dan keluarga
Penyuluh                     : Perawat Windya
Tempat                        : Ruang penyakit dalam
Hari dan tanggal         : Kamis, 22 September 2011
Waktu                         : 30 menit
A.    Tujuan instruksional umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan Tn. R dan keluarga mengerti tentang bahaya rokok terhadap tubuh.
B.     Tujuan instruksional khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan pasien Tn. R mampu :
  1. Menjelaskan secara sederhana pengertian angina pectoris
  2. Menyebutkan penyebab angina pectoris
  3. Menjelaskan secara sederhana bahaya merokok
  4. Menjelaskan upaya pengurangan dan pemberhentian penggunaan rokok

C.    Pokok materi
  1. Pengertian angina pectoris
  2. Penyebab angina pectoris
  3. Bahaya merokok
  4. Upaya pengurangan dan pemberhentian penggunaan rokok
    D.    Metode
    Ceramah
    Tanya jawab

No Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu
1 Pembukaan
  • Salam pembuka
  • Menjelaskan tujuan penyuluhan
  • Apersepsi
  • Menjawab salam
  • Menyimak
  • Mendengarkan dan menjawab pertanyaan
5 menit
2 Kerja/isi
  • Penyampaian garis besar materi tentang bahaya rokok terhadap tubuh
  • Memberi kesempatan pasien untuk bertanya
  • Menjawab pertanyaan
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian
  • Menanyakan hal-hal yang belum jelas
  • Memperhatikan jawaban dari penceramah
15 menit
3 Penutup
  • Evaluasi
  • Menyimpulkan
  • Pesan
  • Salam penutup
  • Tanya jawab
  • Mendengarkan
  • Menerima pesan
  • Menjawab salam

10 menit
E.     Kegiatan penyuluhan
F.     Media :
Brosur
G.    Sumber / referensi :
Chung, EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996
H.    Evaluasi
  1. Tn. R dapat menjelaskan secara sederhana pengertian angina pectoris
  2. Tn. R dapat menyebutkan penyebab angina pectoris
  3. Tn. R dapat menjelaskan secara sederhana bahaya merokok
  4. Tn. R dapat menjelaskan upaya pengurangan dan pemberhentian penggunaan rokok
MATERI
1.      Pengertian angina pectoris
Angina pektoris atau disebut juga Angin Duduk adalah penyakit jantung iskemik didefinisikan sebagai berkurangnya  pasokan oksigen dan menurunnya aliran darah ke dalam miokardium. Gangguan tersebut bisa karena suplai oksigen yang turun (adanya aterosklerosis koroner atau spasme arteria koroner) atau kebutuhan oksigen yang meningkat. Sebagai manifestasi keadaan tersebut akan timbul Angina pektoris yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi infark miokard. Angina pektoris dibagi menjadi 3 jenis yaitu Angina klasik (stabil), Angina varian, dan Angina tidak stabil.
Angina klasik biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas fisik. Sedangkan Angina varian biasa terjadi saat istirahat dan biasa terjadi di pagi hari. Angina tidak stabil tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya, dapat terjadi saat istirahat dan bisa terjadi saat melakukan kegiatan fisik.

2.      Penyebab angina pectoris
  • Latihan fisik
Meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
  • Udara dingin
Mengakibatkan kontriksi, peningkatan tekanan darah serta peningkatan kebutuhan   oksigen jantung.
  • Makanan berat
Meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrikus sehingga mengurangi ketersediaan darah untuk jantung.
  • Stres atau emosi
Menyebabkan pelepasan adrenalin sehingga kontraktilitas jantung meningkat
  • Merokok

3.      Bahaya merokok
Kaitan merokok dengan angina pectoris dan aterosklerosis koroner:
Merokok dapat merangsang proses aterosklerosis karena efek langsung terhadap dinding arteri. Karbon monoksid (CO) dapat menyebabkan hipoksia jaringan arteri, nikotin menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambahkan reaksi trombosit dan menyebabkan kerusakan pada dinding arteri, sedang glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif dinding arteri (Kusmana dan Hanafi, 1996).
4.      Upaya pengurangan dan pemberhentian penggunaan rokok
  1. Yakinkan diri bahwa berhenti merokok sama sekali tidak sia-sia. Pikirkan kualitas hidup yang lebih baik jika bebas dari asap rokok dan cepat mati jika terus merokok.
  2. Rencanakan sebuah tanggal sebagai hari-H berhenti merokok. Sebelum sampai pada tanggal itu, singkirkan asbak, korek api, dan hal-hal yang bisa memicu Anda kembali merokok. Baru setelah tiba pada tanggal itu, berhentilah merokok sama sekali.
  3. Rencanakan kegiatan untuk tanggal itu. Misalnya pergi ke tempat-tempat yang terdapat “no smoking area”, atau pergi berolahraga.
  4. Buatlah daftar orang-orang yang mendukung usaha Anda berhenti merokok, dan mintalah dukungan moril dari mereka.
  5. Untuk mengatasi gejala putus zat, santaplah makanan rendah kalori dan banyak minum air.
  6. Lawanlah godaan untuk merokok, meski hanya satu hisapan saja. Satu hisapan akan mudah diikuti dengan hisapan-hisapan lain, dan upaya keras Anda akan jadi sia-sia.
  7. Kalau Anda hampir menyerah, tundalah sepuluh menit lagi. Hasrat yang kuat itu akan padam. Kalau masih ingin merokok, tariklah napas dalam-dalam melalui mulut, lalu keluarkan secara perlahan dengan menyempitkan bibir Anda. Ulangi 5-10 kali.
DAFTAR PUSTAKA
Corwin, Elizabeth, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC, 2000.
Chung, EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996
Doenges, Marylinn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC, 1998
Engram, Barbara, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume 2, Jakarta, EGC, 1998
Long, C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah 2, Bandung, IAPK, 1996
Noer, Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar