selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Laman

Like Facebook


Kamis, 10 Januari 2013

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA HALUSINASI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada pasien gangguan jiwa dengan kasus Schizoprenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori; halusinasi. Terjadinya halusinasi dapat menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap lingkungan sosialnya, hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya sehingga semakin jauh dari sosialisasi dengan lingkungan disekitarnya.
Atas dasar tersebut, maka kami menganggap dengan Therapy Aktivitas Kelompok (TAK) klien dengan gangguan persepsi sensori dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang mengikuti therapy ini adalah klien yang sudah mampu mengontrol dirinya dari halusinasi sehingga pada saat TAK klien dapat bekerjasama dan tidak mengganggu anggota kelompok yang lain.
1.2  Tujuan
·         Mengenal Halusinasi
·         Mengontrol Halusinasi dengan Menghardik
·         Mengontrol Halusinasi dengan Melakukan Kegiatan
·         Mencegah Halusinasi dengan Bercakap-Cakap
·         Mengontrol Halusinasi dengan Patuh Minum Obat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Topik
            Mengenal Halusinasi
2.2   Tujuan
·         Umum
Klien mampu melakukan TAK persepsi sensori
·         Khusus
Ø  Klien dapat mengenal halusinasi
Ø  Klien mengenal waktu terjadinya halusinasi
Ø  Klien mengenal situasi terjadiinya halusinasi
Ø  Klien mengenal perasaannya pada saat terjadi halusinasi
2.3 Peran Perawat
·         Leader
Ø Menyusun rencana terapi aktivitas kelompok
Ø Mengarahkan kelompok sesuai tujuan
Ø Memimpin jalannya terapi aktivitas kelompok dengan tertib
Ø Memotivasi anggota untuk aktif selama kegiatan terapi aktivitas kelompok
Ø Menetralisir masalah yang mungkn timbul pada saat pelaksanaan
·         Co-leader
Ø Membantu leader mengoraganisasikan kelompok
Ø Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader atau sebaliknya
Ø Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
·         Fasilitator
Ø Memfasilitasi media dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok
Ø Mengatur jalannya aktivitas kelompok
Ø Membantu kelompok berperan aktif
Ø Berperan sebagai role model bagi klien selama proses aktivitas kelompok
Ø Mengantisipasi masalah yang akan terjadi
·         Observer
Ø Mengobservasi respon klien
Ø Mencatat perilaku klien selama dinamika kelompok
Ø Mencatat semua proses yang terjadi dan melaporkannya
2.4 Landasan Teori
a. Defenisi Halusinasi
Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987).
b. Klasifikasi Halusinasi
Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya :
1)      Halusinasi pendengaran
Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara – suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
2)      Halusinasi penglihatan
Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan/atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
3)      Halusinasi penghidu
Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti: darah, urine atau feses. Kadang–kadang terhirup bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
4)      Halusinasi peraba
Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
5)      Halusinasi pengecap
Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan.
6)      Halusinasi sinestetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
c. Tahapan Halusinasi, Karakteristik Dan Perilaku Yang Ditampilkan
 TAHAP
KARAKTERISTIK
PERILAKU KLIEN
Tahap I
·       Memberi rasa nyaman tingkat ansietas sedang secara umum, halusinasi merupakan suatu kesenangan
·       Mengalami ansietas, kesepian, rasa dan ketakutan.
·       Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas
·       Fikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontol kesadaran, nonpsikotik.
·         Tersenyum, tertawa sendiri
·         Menggekan bibir tanpa suaraPergerakkan mata
·         yang cepat
·         Respon verbal yang lambat
·         Diam dan berkonsentrasi
Tahap II
·      Menyalahkan
·      Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipati
·       Pengalaman sensori menakutkan
·       Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut
·       Mulai merasa kehilangan kontrol
·       Menarik diri dari orang lain non psikotik.
·         Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah
·         Perhatian dengan lingkungan berkurang
·         Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja
·         Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas
Tahap III
·         Mengontrol
·         Tingkat kecemasan berat
·         Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi
·           Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi).
·           Isi halusinasi menjadi atraktif.
·           Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik.
·         Perintah halusinasi ditaati.
·         Sulit berhubungan dengan orang lain.
·         Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik.
·         Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat
Tahap IV
·         Klien sudah dikuasai oleh Halusinasi.
·         Klien panik.
·         Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik.
·         Perilaku panik.
·         Resiko tinggi mencederai.
·         Agitasi atau kataton.
·         Tidak mampu berespon terhadap lingkungan.
d. Hubungan Schizoprenia dengan Halusinasi
Halusinasi pendengaran merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa (schizoprenia). Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara–suara bising atau mendengung. Tetapi paling sering berupa kata–kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti: bicara sendiri, bertengkar atau respons lain yang membahayakan.
Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati. Halusinasi pendengaran merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi, psikosa mania depresif dan syndroma otak organik.
Gangguan persepsi yang utama pada skizoprenia adalah halusinasi, sehingga halusinasi menjadi bagian hidup klien. Biasanya dirangsang oleh kecemasan, halusinasi menghasilkan tingkah laku yang tertentu, gangguan harga diri, kritis diri, atau mengingkari rangsangan terhadap kenyataan.
Halusinasi pendengaran adalah paling utama pada skizoprenia, suara – suara biasanya berasal dari Tuhan, setan, tiruan atau relatif. Halusinasi ini menghasilkan tindakan/perilaku pada klien seperti yang telah diuraikan tersebut di atas (tingkat halusinasi, karakteristik dan perilaku yang dapat diamati)
BAB III
ISI
3.1 Persiapan
1. Kriteria Peserta Kelompok
a)      Klien yang mengalami halusinasi
b)      Klien halusinasi yang sudah terkontrol
c)      Klien yang dapat diajak kerjasama
d)     Klien dapat mengidentifikasi halusinasinya
2. Proses Seleksi
a)      Berdasarkan observasi dan wawancara
b)      Menindak lanjuti asuhan keperawatan
c)      Informasi dan keterangan dari klien sendiri dan perawatan
d)     Penyelesian masalah berdasarkan masalah keperawatan
e)      Klien cukup kooperatif dan dapat memahami pertanyaan yang diberikan
f)       Mengadakan kontrak dengan klien
3. Jumlah Anggota dan Nama Anggota
     Anggota 6 orang
1.     Tn. Brian Ananda Dwi Saputra
2.      Tn. Romdoni
3.      Ny. Susanti
4.      Ny. Eka Purwaningsih
5.      Ny. Ayu Wiharti
6.      Tn. M.Saiful bakhri
4. Media dan Alat yang digunakan
a)         Spidol
b)        Papan tulis/ whiteboard/flipchart
5. Gambaran Struktur Kelompok

6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
·      Hari /Tanggal       : Kamis, 18 Juni 2012
·      Tempat                 : Di Ruang Pasien
·      Waktu                  : 09.00- selesai
7. Tata Tertib dan Metode TAK
Metode
·      Dinamika kelompok.
·      Diskusi Tanya jawab.
·      Role Play/bermain peran/simulasi.
Tata Tertib
·      Apabila ada klien yang ingin meninggalkan kelompok , harus minta izin dengan para terapis.
·      Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
8.    Program Antisipasi
Penanganan terhadap klien yang tidak aktif dalam aktivitas
·         Memanggil klien.
·         Memberi kesempatan pada klien untuk menjawab sapaan perawat atau klien lain.
Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa izin
·         Panggil nama klien.
·         Tanyakan alasan klien meninggalkan kegiatan.
Bila klien lain ingin ikut
·         Berikan penjelasan bahwa kegiatan ini ditujukan kepada klien yang telah dipilih.
·         Katakan pada klien bahwa ada kegiatan lain yang mungkin didikuti oleh klien tersebut.
·         Jika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi pesan pada kegiatan ini.
3.2 Pelaksanaan
1.      Orientasi
a.       Salam terapeutik
·         Salam dari terapis kepada klien
·         Perkenalkan nama dan panggilan terapis ( pakai papan nama )
·         Menanyakan nama dan panggilan semua klien ( beri papan nama ).
b.      Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c.       Kontrak
·         Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu mengenal suara-suara yang didengar.
·         Terapis menjelaskan aturan main, yaitu :
1)      Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis
2)      Lama kegiatan 45 menit
3)      Setiap klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
2.      Tahap kerja
a.       Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, yaitu mengenal suara-suara yang didengar (halusinasi) tentang isinya, waktu terjadinya, situasi terjadinya, dan perasaan klien pada saat terjadi
b.      Terapis meminta klien menceritakan isi halusinasi, kapan terjadinya, situasi yang membuat terjadi, dan perasaan klien saat terjadi halusinasi. Mulai dari klien yang sebelah kanan, secara berurutan sampai semua klien mendapat giliran. Hasilnya tulis di whiteboard.
c.       Beri pujian kepada klien yang melakukan dengan baik.
d.      Simpulkan isi, waktu terjadi, situasi terjadi, dan perasaan klien dari suara yang biasa didengar.
3.      Fase terminasi
a.       Evaluasi
·         Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
·         Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok TAK
b.      Tindak lanjut
·         Terapis meminta klien untuk melaporkan isi, waktu, situasi dan perasaannya jika terjadi halusinasi kepada perawat jaga.
c.       Kontrak yang akan datang
·         Terapis membuat kesepakatan dengan klien untuk TAK yang berikutnya, yaitu cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.
·         Terapis membuat kesepakatan waktu dan tempat TAK berikutnya.
STRATEGI PELAKSANAAN
TAK STIMULASI PERSEPSI : HALUSINASI
SESI 1 : MENGENAL HALUSINASI
PROSES PELAKSANAAN TINDAKAN ( Strategi Komunikasi )
1.      Fase orientasi
a.       Salam terapeutik
Leader       :  “Assalamualaikum Wr.Wb….Selamat pagi Bapak dan Ibu semuanya. Perkenalkan nama saya Gugun Gunawan, saya biasa dipanggil Gugun, saya dari Akper Pemda Sumedang yang akan memimpin jalannya permainan sampai dengan selesai, dan tak lupa rekan disamping kiri saya Panji, berurutan dari Dian, suster Riska, dan disebelah sana Ida.
b.      Evaluasi / validasi
Leader       :  “Bagaimana perasaan Bapak Ibu pagi ini?
c.       Kontrak
Leader       : “Pagi ini kita akan melakukan suatu kegiatan, tujuannya agar
Bapak/Ibu semuanya dapat mengenal halusinasi
Leader        : “Saya akan menjelaskan peraturan kegiatan hari ini, yaitu :
1.      Apabila Bapak/Ibu ingin meninggalkan kelompok, Bapak/Ibu harus memberi tahu saya.
2.      Lamanya kegiatan kita ini adalah 45 menit
3.      Bapak/Ibu harus mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
2.      Fase kerja
Leader             :“Baiklah Bapak dan Ibu, kegiatan kita ini yaitu untuk mengenal suara-suara yang di dengar (halusinasi) oleh bapak dan ibu, lalu nanti coba Bapak dan Ibu ceritakan tentang isinya, waktu terjadinya, situasi terjadinya, dan perasaan Bapak dan Ibu ketika ada suara tersebut”
Leader             : ”Baiklah sekarang kita mulai dari sebelah kanan untuk bercerita dan dan berurutan searah jarum jam, karena bapak yang paling kanan silahkan bapak pertama menceritakan. Silahkan Bapak.. bapak boleh memperkenalkan diri dulu. Bapak mendengar apa? Isi suara itu apa? Waktunya kapan muncul?  Berapa kali pak? Bapak sedang apa saat suara itu muncul? Lalu bagaimana perasaan Bapak?
Leader             :”Bagus Bapak telah menceritakan halusinasi yang Bapak rasakan, sekarang mari kita melanjutkan ke giliran berikutnya. (secara bergantian menceritakan halusinasinya). Wah Bapak-bapak dan Ibu yang ada disini semuanya hebat ya,,sudah dapat menceritakan halusinasi yang dialami. Mari kita bertepuk tangan bersama semuanya….”.
3.      Fase terminasi
a.       Evaluasi
·         Subjektif  
Leader             : “Bagaimana perasaan Bapak-bapak dan mas setelah mengikuti   TAK hari ini?”.
·         Objektif       
Leader             : “Coba Bapak-bapak dan mas sebutkan kembali suara apa saja yang tadi kita dengar? Bagus sekali Bapak-bapak dan mas”.
b.      Rencana tindak lanjut
Leader        :“Saya harap Bapak-bapak dan Ibu yang ada disini melatih kemampuan mengartkan suara-suara yang Bapak dan Ibu dengar serta jika halusinasi Bapak-bapak dan Ibu muncul kembali, Bapak dan Ibu dapat melaporkan isi, waktu, situasi dan perasaannya dengan perawat”
c.       Kontrak yang akan datang
Leader        :“TAK untuk mengenal halusinasi telah selesai, namun masih ada TAK untuk mengajarkan Bapak-bapak dan Ibu yang ada disini mengenai cara mengontrol halusinasi bapak dan ibu dengan menghardik.
Leader       :“TAK tersebut akan dilanjutkan oleh teman saya sodara Panji. Kegiatan TAK tersebut akan dilakukan besok pukul 08.30 selama 30 menit dan tempat dilakukannya TAK tetap disini ya Bapak dan Ibu,. Apa Bapak-bapak dan Ibu semua setuju?? Baiklah, Wasalamualaikum Wr Wb,,,”.
                      
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja untuk menilai kemampuan klien melakukan TAK. Aspek yang evaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.Untuk TAK stimulasi perepsi halusinasi sesi 1, kemampuan yang diharapkan adalah mengenal isi hlusinasi, waktu terjadinya halusinasi, situasi terjadinya halusinasi dan perasaan saat terjadi halusinasi. Formulir evaluasi sebagai berikut.
Sesi 1 : TAK
Stimulasi persepsi : halusinasi
Kemampuan mengenal halusinasi
No
Nama Klien
Menyebut isi halusinasi
Menyebut waktu terjadi halusinasi
Menyebut situasi terjadi halusinasi
Menyebut perasaan saat halusinasi
1
2
3
4
5
6
7
Petunjuk :
1.      Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2.      Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan mengenal halusinasi : isi, waktu, situasi, dan perasaan. Beri tanda ceklist jika klien mampu dan tanda silang jika klien tidak mampu.
4.2 Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien engikuti TAK stimulasi persepsi : halusinasi Sesi 1. Klien mampu menyebut isi halusinasi ( menyuruh memukul ), waktu ( pukul 9 malam ), situasi ( jika sedang sendiri ), perasaan ( kesal dan geram ). Anjurkan klien mengidentifikasi halusinasi yang timbul dan menyampaikan kepada perawat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar