selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Laman

Like Facebook


Kamis, 28 Februari 2013

MAKALAH SANITASI RUMAH SAKIT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Rumah Sakit merupakan tempat umum yang mempunyai bagian-bagian yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor. Mengingat rumah sakit sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan dan merupakan tempat berkumpulnya orang- orang sakit dan orang-orang sehat maka lingkungan rumah sakit harus bebas vektor agar tidak terjadi kontak antara manusia dengan vektor  atau makanan dengan vektor supaya penyakit infeksi Nosokomial yang ditularkan melalui vektor dapat ditekan serendah mungkin dan tidak terjangkit penyakit lain yang disebarkan oleh vektor.
Untuk menghindari kontak antara manusia/pasien di rumah sakit dengan vektor dan mencegah timbulnya penyebaran penyakit, sangat diperlukan pengendalian vektor di rumah sakit. Agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan maka diperlukan pedoman pengendalian vektor di Rumah Sakit.
Ditinjau dari nilai estetika, keberadaan vektor akan menggambarkan lingkungan yang tidak terawat, kotor, kumuh, lembab, kurang pencahayaan serta adanya indikasi penatalaksanaan/manajemen kebersihan lingkungan Rumah sakit yang kurang baik.
Mengingat besarnya dampak negatif akibat keberadaan vektor di Rumah Sakit, maka Rumah Sakit harus terbatas dari hewan ini.
Sebagai langkah dalam upaya mencegah kemungkinan timbulnya penyebaran penyakit serta untuk mencegah timbulnya kerugian sosial dan ekonomi yang tidak diharapkan, maka perlu disusun pedoman teknis pengendalian vektor di Rumah Sakit.                        
1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perlunya pengendalian vektor penyakit
2.      Pengertian Vektor-borne disease
1.3 Tujuan Penulisan
Umum :
1.      Tujuan dari pedoman ini adalah untuk meningkatkan sanitasi kesehatan.
Khusus :
2.      Sebagai pedoman dalam upaya pengendalian vector penyakit.
3.      Terselenggaranya pengendalian vector penyakit  secara efektif dan efisien di rumah sakit.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian pengendalian  vektor
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung juga sebagai perantara penularan penyakit, seperti yang sudah diartikan diatas.
Adapun dari penggolongan binatang ada dikenal dengan 10 golongan yang dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak sebagai perantara penularan penyakit malaria, deman berdarah, dan Phyluml chodata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes. Sebenarnya disamping nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masih banyak binatang lain yang berfimgsi sebagai vektor dan binatang pengganggu.
Namun kedua phylum sangat berpengaruh didalam menyebabkan kesehatan pada manusia, untuk itu keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat ertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatu managemen pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk memurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan.
Jadi Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia.

2.1.1 Meteologi Pengendalian vektor
Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka memurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhanapun, yang penting d dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut :
1.      Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.
2.      Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup.

2.1.2  Konsep dasar pengendalian Vektor
1.      Harus dapat menekan densitas vektor
2.      Tidak membahayakan manusia
3.      Tidak mengganggu keseimbangan lingkungan

2.1.3 Tujuan pengendalian vektor
1.      Mencegah wabah penyakit yang tergolong vector-borne disease memperkecil risiko kontak antara manusia dg vektor penyakit dan memperkecil sumber penularan penyakit/reservoir
2.      Mencegah dimasukkannya vektor atau penyakit yg baru ke suatu kawasan yg bebas  dilakukan dengan pendekatan legal, maupun dengan aplikasi pestisida (spraying, baiting, trapping)

2.1.4 Cara Pengendalian Vektor
1.      Usaha pencegahan (prevention)  mencegah kontak dengan vektor  pemberantasan nyamuk, kelambu
2.      Usaha penekanan (suppression) menekan populasi vektor sehingga tidak membahayakan kehidupan manusia
3.      Usaha pembasmian (eradication) menghilangkan vektor sampai habis


2.1.5 Metode pengendalian Vektor
1.      Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) memanfaatkan kondisi alam yang dapat  mempengaruhi kehidupan vector jangka waktu lama
2.      Pengendalian terapan (applied control) memberikan perlindungan bagi kesehatan manusia dari gangguan  vektor sementara
a.       Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement)
b.      Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) difikasi/manipulasi lingkungan landfilling, draining
c.       Pengendalian secara biologis (biological control) memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa/predator, fertilisasi
d.      Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) karantina
e.       Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control)

2.1.6 Jenis jenis vektor
Seperti telah diketahui vektor adalah Anthropoda yang dapat memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan.
Sebagian dari Anthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciriciri kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesarjumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang.
Antropoda dibagi menjadi 4 kelas :
1.      Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang
2.      Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu
3.      Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau
4.      Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk

2.2. Pencegahan agar Rumah Sakit terbebas dari serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya dengan dipatuhinya persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu sbb:
Kesehatan lingkungan merupakan usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik manusia yang diperkirakan menimbulkan atau akan menimbulkan hal hal yang merugikan perkembangan fisiknya, kesehatannya ataupun kelangsungan hidup. Maksud dari pengertian lingkungan ini adalah pengendalian semua faktor yang ada dalam lingkungan

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
            Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia. Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia.

B.     SARAN
1.      Lebih meningkatkan kebersihan dan prilaku hidup bersih.
2.      Menyiapkan anti serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya.
3.      membasmi tempat-tempat dimana serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya hidup dan berkembang biak.
4.      lebih memperhatikan keadaan tempat tinggal dan lingkungan sekitarnya.
5.      Untuk pengendalian vektor tidak lah dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas maka gunakanlah kelambu di saat tidur hal ini dapat mengurangi popilasi vektor.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Santio Kirniwardoyo (1992), Pengamatan dan pemberatasan vektor malaria, sanitas. Puslitbang Kesehatan Depkes Rl Jakarta
2.      Adang Iskandar, Pemberantasan serangga dan binatang pengganggu, APKTS Pusdiknakes. Depkes RI. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar